Sekolah Gratis – Sekolah Gratis , itu yang sering di semboyankan dalam setiap kampanye dalam Pemilu Kepala Daerah . Sebenarnya apa sih sekolah Gratis itu ?, ada dua pendangan dalam hal ini , yang pertama pandangan orang awam , masyarakat yang hanya tahu ya kalau gratis itu gak bayar lho mas, semua nya gratis gak bayar sekolah , gak ada uang masuk sekolah, gak ada beli lagi pelengkapan sekolah dan lain-lain, pokoknya semua gratis. Yang kedua pandangan para praktisi pendidikan kita. Yang berpendapat bahwa sekolah gratis sudah ada dari tahun 1945 dan ada dalam UUD 45, pemerintah berkewajiban menyelenggaran pendidikan bagi warga negaranya. Hal ini sudah berlangsung dari zaman orla, pada era ini sampai dari tahun 1945 – era 50 an sekolah dasar memang gratis , tetapi setelah itu memang ya tidak ada lagi program tersebut. Dan pada era Orba tahun 1990 bahwa wajib sekolah Sembilan tahun, programnya jelas bayar sekolah dari pemerintah di hilangkan , tetapi diganti dengan SPP yang di tentukan oleh sekolah masing – masing dengan jumlah yang berbeda – beda sesuai dengan mayoritas dari muridnya , ya jika banyak yang kategori mampu maka bayaran sekolah pada sekolah itu berkisar 5000 – 20.000 , tetapi bagi sekolah negeri pada saat itu hanya 1000/ bulan. System ini digunakan sampai reformasi terakhir pada zaman pemerintahan Ibu Megawati. Pada masa pemerintahan SBY-JK ini sekolah mulai dari SD-SMP-SMA bahkan perguruan tinggi memang gratis akan tetapi perlu di garis bawahi ini bukanlah program pemerintah pusat , tetapi kebijakan dari bupati , wako atau gubernur dari propinsi tersebut. Contoh Propinsi Sumatera selatan. Untuk kabupaten MUBA sekolah gratis itu di selenggarakan dari SD-SMP-SMA dan perguruan tinggi.
Kembali ke program Sekolah Gratis, bagaimana kita memandang sekolah gratis agar kita salah dalam menentukan pendapat. Sekolah Gratis merupakan system yang membebaskan uang sekolah bagi muridnya. Jika diantara kita ada yang berpendapat Sekolah Gratis tetapi masih membeli buku itu namanya bukan gratis. Hal tersebut sebenarnya sudah salah mempersepsikan dari makna sekolah gratis, bisa di tegaskan bahwa sekolah gratis hanya mencakup uang bayaran bulanan bagi muridnya. Jadi apabila ada yang berpendapat masuk sekolah itu bayar 500.000 – 2.000.000 , apa penyebab masuk sekolah itu bayar, mungkin karena masih ada celah dalam perpu yang ada , yang tidak ada yang menyebutkan sekolah tidak berhak / boleh mengambil beban biaya pada calon siswa. Jika ada yang bertanya kembali kemana uang yang kita berikan pada saat masuk sekolah ?, banyak opsi untuk itu. Yang pertama untuk membayar tenaga honorer yang biasanya udah tidak nerima gaji selama berbulan-bulan, kedua di gunakan untuk insfratruktur sekolah misal perbaikan meja kursi dan perlengkapan sekolah yang rusak, yang ketiga digunakan buat bayar pungli ke departeman pendidikan dimana kota , kabupaten sekolah tersebut.
Sekarang timbul dua pertanyaan kita sebenarnya butuh sekolah gratis atau pendidikan yang gratis ?, jika memilih memang kita memilih pendidikan gratis , karena sudah di pastikan kita tidak akan di kenai biaya, mulai dari sekolah, buku dan lain-lainnya. Tetapi sampai saat ini di seluruh dunia belum ada yang membuat program pendidikan gratis, Bukankah Pendidikan itu hal yang mahal.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama para orang tua murid agar bisa membandingkan atau mengerti apa sebenarnya sekolah gratis tersebut.
Filed under: Celoteh
Mas Oktady, saya mohon izin untuk mengutip artikel ini di blog saya (hilaby.multiply.com). Artikel ini sangat menarik untuk dibaca orang-orang yang awam dengan konsep sekolah gratis. Artikel ini sedikit saya rapikan agar lebih enak dibaca.
Terima kasih
Rizal Pahlevi H.
Editor PT Penerbit Erlangga
hilaby.multiply.com
pahlevi_rizal@yahoo.com
Mas Oktady, saya mohon izin untuk mengutip artikel ini di blog saya (hilaby.multiply.com). Artikel ini sangat menarik untuk dibaca orang-orang yang awam dengan konsep sekolah gratis. Artikel ini sedikit saya rapikan agar lebih enak dibacanya.
Terima kasih
Rizal Pahlevi H.
Editor PT Penerbit Erlangga
hilaby.multiply.com
pahlevi_rizal@yahoo.com
(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)
Strategi Pendidikan Milenium III
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
Oleh: Qinimain Zain
FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).
DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.
Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?
KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).
Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.
Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?
Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.
WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).
Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.
Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.
ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).
Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.
Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.
SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).
Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.
BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)
BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).
sebenarnya omong kosong belaka klo ada sekolah gratis.cuma janji2 palsu.giliran udah punya jabatan lupa.benar harusnya jangn sekolah gratis tapi pendidikan GRATIS